Selasa, 08 November 2016

Terlewati juga

Diposting oleh Riza Aftasony di 02.32 0 komentar

Seringkali aku menantikan suatu hari, menghitungnya, dan membayangkan hal hal Indah di hari itu. Hari yang ku nanti itu pada akhirnya terlewati juga. Aku hanya perlu sabar menantinya. Aku hanya perlu menikmati proses penantiannya. Tapi penantian hari kali ini sepertinya berbeda dengan penantian sebelum sebelumnya. Penantian hari kali ini debarnya lebih terasa. Bagaimana tidak berdebar, hari yang kunanti adalah hari pernikahanku yang pada akhirnya akan terlewati juga. Menantikan suatu hari, aku tidak pernah sedebar ini. Hari hari terasa lebih lama dari biasanya. Kenapa bisa seperti itu? 
H-37

Selasa, 01 November 2016

H-42

Diposting oleh Riza Aftasony di 19.52 0 komentar

Kemarin mas cerita,  katanya hpnya ketinggalan di sekolah.  Terus cerita lagi,  katanya habis jenguk anak temannya yang dirawat di icu karena demam berdarah. Terus aku juga cerita sama mas kalau hari itu aku mendampingi anak-anak lomba di sengkaling seharian. Beberapa hari sempat khawatir karena mas ngga ada kabar.  Sedang sakitkah, sedihkah, atau ada sesuatu yang sulitkah.  Begitu hatiku bertanya-tanya. Tapi setelah di ceritani begitu sama mas hatiku jadi lega, legaa sekali. Bahagia, bahagiaa sekali. Setidaknya aku tahu kalau mas sehat dan beraktivitas seperti biasa. Bercerita tentang apa yang dilakukan hari itu meskipun kelihatannya sederhana tapi senang sekali bisa diceritani seperti itu sama mas. Lega sekali dikabari begitu sama mas. Bahagia itu sederhana mas, sesederhana dapat kabar atau cerita kecil darimu. Tidak bisakah setiap hari aku mendapatkan bingkisan cerita darimu?

Sabtu, 15 Oktober 2016

Diposting oleh Riza Aftasony di 10.15 0 komentar

Dilamar itu rezeki. Laki laki yang baik adalah laki-laki yang berani melamar. Dan perempuan yang baik adalah perempuan yang ikhlas menerima lamaran. Kata kata itu yang pernah ku baca di tumblr favoritku.

Rasanya masih belum percaya. Keluarga kami sudah merencanakan Pernikahan kami di akhir tahun 2016. Mungkin karena prosesnya yang terlalu cepat jadi rasanya seperti aneh dan tidak terdefinisi. Siapa sangka momentum mendebarkan itu akan aku lalui tahun ini. Subhanallah, Allah is the best of planners. Tetapi satu hal yang pasti, ada kebahagiaan didalamnya yang selalu aku syukuri hingga detik ini.

Perkenalanku dengan mas dimulai bulan september 2016. Sebenarnya aku tidak mengerti apa yang membawanya datang menujuku.  Padahal siapalah daku hanya remahan rempeyek mas, cantik tidak, kaya tidak, pintar tidak, soleha tidak juga. Tapi mas benar benar datang dengan tujuan. Nanti jika kami sudah sah menikah, aku ingin menanyakan padanya mengapa ia menujuku.

Taaruf kami yang sederhana, waktu itu mas datang bersama dua temannya yang salah satu dari temannya itu adalah tetanggaku. Beliaulah yang mengantar mas sampai pada rumah saudaraku yang akhirnya mempertemukan kami berdua. Kesan pertama saat bertemu dengan mas, aku tidak menemukan senyumnya. Yang aku lihat darinya adalah wajah yang dingin, tanpa senyum dan tenang. Aku bahkan heran sekali bagaimana bisa mas terlihat tenang sementara aku grogi sekali tidak karuan.

Setelah pertemuan pertama, kami bertukar nomor handphone. Kami mulai berkomunikasi lewat whatsapp. Kami hanya membahas hal hal penting. Mas itu orangnya to the point dan ngga basa basi. Jadi kalau mas ingin bertanya ia langsung ke pertanyaan inti. Jika sudah tidak ada hal yang perlu dibahas dan ditanyakan maka percakapan kami berhenti sampai disitu. Bahasa chattingnya juga dingin sekali, membuatku berprasangka pada mas dan aku menyesal sudah berprasangka.

Masih di bulan September 2016,  mas bertanya kepadaku, apakah ia boleh berkunjung ke rumahku. Hari itu hari senin malam selasa. Mas benar benar datang bersama keluarganya membawa tetelan dan bawaan lainnya. Mengutarakan maksud  tujuannya. Sekali lagi, selalu ada bahagia yang bisa disyukuri.

Hari pertama di bulan Oktober sabtu malam minggu, keluargaku yang berkunjung ke kediaman mas. Membalas kunjungan keluarga mas pada waktu itu. Ada perasaan bahagia, damai dan hangat saat salim dan berpelukan dengan ummi, ibu hebat yang melahirkan mas. Hari itulah ditetapkan tanggal pernikahan kami. Dan acara manis pada malam itu ditutup dengan sebuah cincin yang dipakaikan bibinya mas di jariku. Meskipun cincinnya kebesaran, tapi subhanallah terharu sekali rasanya.

Sejak hari itu, bagiku hari demi hari terasa sangat lama. Kami mulai membahas hal hal yang berhubungan dengan pernikahan lewat whatsapp. Tidak pernah telpon hanya chatt dengan whatsapp. Sekali lagi kami hanya membahas hal hal penting. Mas tidak pernah berkata cinta cintaan atau semacamnya seperti kebanyakan pasangan yang mau menikah. Memberi perhatian juga sekedarnya. Tapi mas adalah pria yang mengajakku menikah.

Semoga Allah mempermudah urusan pernikahan kita sampai hari H ya mas.
Aamiin.

Malang, 15 Oktober 2016

Senin, 11 Juli 2016

Alhamdulillah, idul fitri (:

Diposting oleh Riza Aftasony di 03.32 0 komentar

Bagaimanapun keadaan idul fitrimu jangan pernah sekalipun lupa untuk bersyukur. Meskipun idul fitrimu banyak sekali kekurangan, semoga terselip berkah yang luar biasa. Jadi, bagaimana idul fitrimu tahun ini?

Malam takbiran berkumandang, selalu menyisakan air mata. Hal itu menjadi rutin sejak saya kelas 6 SD. Karena pada waktu itu menjadi awal kehidupan saya, takbiran dan idul fitri tanpa mama saya yang meskipun sudah tiada tetapi selalu lekat di hati saya. Malam takbiran tahun ini, dengan suasana yang berbeda, saya dengan air mata saya, menangisi jalan kehidupan yang telah digariskan Allah, meratapi dosa-dosa yang saya lakukan, merindukan mama saya, menangisi diri saya yang masih sendiri, juga berusaha untuk  bersyukur. Air mata itu terhenti dengan tiba-tiba karena ada tamu yang tiba-tiba mengetok pintu pagar. Saya gelagapan mengusap air mata. Padahal saya masih ingin menangis lebih lama lagi menumpahkan segalanya~~

Hari raya idul fitri selalu saya yakini sebagai hari yang penuh berkah tidak peduli bagaimanapun kekurangannya. Tapi idul fitri kali ini adalah yang paling menggoreskan luka bagi saya. Semoga berkah dan keajaiban selalu menyertai keluarga saya. Sehat sehat selalu abah, saya selalu memohon kesehatan dan keselamatan kepada Allah untuk abah melebihi diri saya sendiri. Bahagia saya adalah kesehatan abah. Tolong, jangan pernah merasa sakit karena hal itu membuat hati saya terasa sakit.

Alhamdulillah, terimakasih ya allah, tahun ini begitu banyak perjuangan dan air mata. Jadi seperti ini yang namanya ujian kehidupan? Saya jadi ragu, apakah saya mampu melewati hari-hari berikutnya? Apakah seperti ini kehidupan orang dewasa?

Bahkan idul fitri tahun ini saya lupa untuk selfie :(

Alhamdulillah masih bisa merasakan idul fitri dengan makna yang berbeda. Alhamdulillah (:

Selasa, 23 Februari 2016

Yudisium

Diposting oleh Riza Aftasony di 07.54 0 komentar

Late post
Tiba-tiba kangen masa-masa jadi mahasiswa. Trus nemu foto ini. Foto pas yudisium tgl 5 agustus 2015.

Ngga pernah nyangka bisa lulus kuliah pas 4 tahun. Ngga pernah nyangka juga jadi lulusan sarjana psikologi. Alhamdulillah untuk setiap sesuatu yang ku dapatkan saat ini. Aku cinta Allah ♥

Minggu, 05 April 2015

SKRIPSI

Diposting oleh Riza Aftasony di 09.30 0 komentar
Saat ini, saya adalah mahasiswa semester akhir yang sedang fokus menyelesaikan Tugas Akhir yakni SKRIPSI. Sudah saya duga, saya akan mengalami beberapa bahkan banyak hambatan untuk menyelesaikannya. Namun yang perlu saya lakukan hanya berjuang, berjuang, dan berdoa. Sesudah kesulitan pasti akan ada kemudahan. Demikian hal yang selalu saya fikirkan. Apalagi melihat teman seangkatan beberapa sudah lulus dan selfie pake topi toga, disitu kadang saya merasa sedih. Namun justru hal itu menjadi pemicu untuk segera bersemangat menyelesaikan Tugas Akhir tersebut.

Masalah skripsi memang benar-benar bisa buat mahasiswanya GALAU bahkan mengalahkan kegalauan putus cinta. Dari mikir judul di awal semester 7 sampai mau ngapa-ngapain terbayang-bayang kata skripsi skripsi skripsi. Makan mikirin judul, mandi mikirin judul, di perjalanan mikirin judul, pokonya semua-muanya pasti keingetan judul. Nah biasanya judul itu tiba-tiba aja langsung dateng tanpa di undang. Pokonya rajin-rajin aja ke tempat yang bisa buat kamu punya banyak inspirasi.

Saya dapet ide judul skripsi pas saya lagi bengong-bengong di perpustakaan kampus sambil liat skripsi-skripsi punya kakak tingkat dan cuma bisa mikir gitu gimana nyelesainnya? Jujur saya nggak pernah pede dan selalu was-was, kadang nggak yakin sama diri sendiri apa bisa nyelesain skripsi -_- tapi skripsi bukan hal yang harus ditakuti. Justru kita harus bersahabat dengan skripsi dan harus mengerjakannya dengan sepenuh hati.

Supaya bisa mengerjakan dengan sepenuh hati, pilih judul, tema yang disukai dan dirasa menguasai. Jangan pilih judul cuma buat keren-kerenan aja, khawatirnya ntar sulit di akhirnya. Kamu juga harus punya target supaya kamu lebih bersemangat mengerjakan skripsi. Target ujian sidang skripsi, atau target wisuda misalnya. Bisa juga target menikah. Kan ada tuh slogan Cepet Selesaiin Skripsi Biar Cepet Resepsi -_-

Nikmati prosesnya, suatu saat kamu akan merindukan dimana masa-masa kamu seharian sama laptop, ngetik, mikir, nggak keluar kamar, lupa makan, lupa mandi seharian, ngga mau diganggu, berat badan turun drastis, mata lelah, mata panda, begitulah. Yang penting jangan lupa tetap berdoa kepada Allah dan jangan lupakan Sholat supaya Allah mempermudah jalan kita semua dalam mengerjakan skripsi.

Rajin-rajin ke perpustakaan, browsing jurnal, konsul sama dosen pembimbing, sharing sama teman sejawat. Jangan pernah deh ninggalin skripsi apalagi sampe berminggu-minggu. Nyesel ntar bro. Mengerjakan skripsi itu niat aja nggak cukup. Kadang udah niat, tapi malas lebih memenangkan segalanya. Uda buka laptop, tapi ngga tau apa yang harus di ketik. Dari situ kita memang harus lebih banyak berdoa sama Allah. Ujian terberat mengerjakan skripsi itu adalah malas. Saat kamu malas, coba inget-inget aja orang tua di rumah yang pengen liat kamu sukses :)

Apalagi sekarang saya sudah mengajar di Raudhatul Athfal di dekat rumah saya. Mengerjakan skripsi dan melakukan penelitian di sela-sela mengajar ternyata memang tidak mudah. Harus pintar membagi waktu, tenaga, dan pikiran. Tapi saya bahagia sekali dengan keberuntungan yang saya dapatkan ini. Mengajar sama sekali bukan beban bagi saya, tapi merupakan suatu kebahagiaan. Saya selalu berharap semoga dengan keikhlasan saya mengajar, akan membuahkan kemudahan bagi saya untuk menyelesaikan skripsi. Amin.

Sekarang saya lagi tahap penyempurnaan dan revisi-revisi gitu deh, rencananya sih pengen ikut sidang skripsi tanggal 27-30 April 2015. Besar harapan deh pokonya. Bismillahirrahmanirrahim, apapun yang terjadi harus tetap semangat, semoga bisa wisuda bulan Agustus 2015 bersama teman-teman seangkatan yang tercinta. Trus selfie pake topi toga. Amin.

Semoga yang saat ini juga sedang dalam proses menyelesaikan tugas akhir juga diberikan kemudahan oleh Allah sehingga dapat segera selesai. Amin. SEMANGAT!

Minggu, 5 April 2015
23.29 di sela-sela pengerjaan skripsi.

SEMANGAT SEMANGAT SEMANGAT

Minggu, 29 Maret 2015

Kutipan Drama Korea Pinocchio

Diposting oleh Riza Aftasony di 01.30 1 komentar
Aku iri dengan angin topan, setidaknya ia memiliki tujuan. - Choi In Ha

Ibu, ada murid yang menembakku hari ini. Tapi ada yang aneh. Rasanya sungguh aneh. rasanya perutku menjadi mual. Saat mendengar pengakuannya, aku merasa otakku jadi rusak. Tapi aku juga merasa seperti pohon pinus. Nyatanya hatiku tak berdebar. - Choi In Ha

Mungkin getaran hatiku akan berkurang seiring berjalannya waktu. dan setelah itu aku bisa pergi. Tapi itu hanyalah alasan bodoh. Hanya alasan agar bisa terus di sisinya. - Ki Ha Myung/ Choi Dal Po

Aku juga ingin bertindak seolah semua baik-baik saja. Tapi karena itu tak mungkin, aku hanya bisa bersembunyi. - Choi In Ha

Kau tak perlu berpura-pura seolah semuanya baik-baik saja. Karena aku tahu bahwa kau sedang terluka. - Ki Ha Myung/ Choi Dal Po

Entahlah, aku hanya begitu saja menyadari perasaanku. - Choi In Ha

Bagaimana jika kau sudah berusaha dan melakukan segala yang kau bisa tetapi perasaanmu masih tetap ada untuk waktu yang lama? - Ki Ha Myung/ Choi Dal Po

Siapa yang peduli apakah kebetulan atau tidak, yang penting adalah akhirnya bertemu.

Aku benar dan kau salah, tapi aku sangat mengkhawatirkanmu. - Choi In Ha

Tidak melihatmu membuatku khawatir. Apa kau menyalahkan diri sendiri atau duduk terluka dan terluka. Aku terus mengkhawatirkanmu lagi dan lagi. - Choi In Ha

Bisakah firasat buruk ini hanya kebetulan?

Aku tidak bisa memintamu untuk bersamaku sekarang. Tapi jangan berpaling pada orang lain. - Ki Ha Myung/ Choi Dal Po

Lee Jung Sook sebagai Ki Ha Myung/ Choi Dal Po
Park Shin Hye sebagai Choi In Ha

Recomended banget deh buat di tonton. Baguuuuus banget dramanya. Kerreeen!!!
 
 

Stroberi Note's Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea